letters to you.
Beberapa tahun yang lalu.
Aku bertemu dengan seorang pria.
Pria yang baru beranjak dewasa, baik, pendiam, good looking, dan pintar.
Semakin hari aku semakin dekat dengannya.
Telat kusadari, bahwa aku menyukainya.
Sampai dia pergi, dimiliki wanita lain.
Berkali-kali aku terluka, melihatnya dengan wanita lain.
Semua karena kebodohanku yang menutup diri kepadanya.
Sudah sangat cukup bagiku, dia menjadi sahabatku.
Kudengarkan dengan sabar, walau sakit, semua curhatannya.
3 tahun berlalu.
Aku menutup tahun terakhir sekolahku dengan cerita yang indah.
Melewati malam perpisahan dengan sahabat yang merangkap cinta sejatiku.
3 tahun lagi berlalu.
Dia tetap ada.
Setia mendengarkan curhatanku, yang ternyata sekarang kuketahui bahwa itu juga menyakitkannya.
Menemaniku melewati macetnya jalan Jakarta dengan segala candaan darinya.
Tak pernah sekalipun ku merasa bosan saat bersamanya.
Dia tumpuanku, dia yang kuandalkan.
Penyelamatku, penjagaku, pangeranku.
Aku tahu, hidup ini bukan dongeng, yang bs mewujudkan semua keinginanku, semua impianku.
Tetapi, yang aku tahu, hidup itu seperti cerita, dan hanya mempunyai satu akhiran.
Kebahagiaan.
Aku ingin mencapai kebahagiaan itu bersamanya.
Pacar, merangkap sahabat.
Seseorang yang sudah mengisi hidupku selama 6 tahun kemarin, dan mengisi penuh hari-hari aku selama 8 bulan terakhir.
Mendampingiku, menemaniku, menjagaku.
Mengingatkan dan memperbaiki kesalahanku.
Membuatku tersenyum dan membagi seyumku dengannya.
Ispirasiku, panutanku.



Semoga kita bisa mencapai kebahagian, selamanya.
Hidupku, Rezky Pradyansa.
Filed under: Uncategorized | Leave a Comment
Tags: love life, pradyansa, relationship
it’s been a while.
Yes, it’s been a while since my last post. Kinda busy lately. Assignment, working on brochure for GYA Teens, and starting my family new company. Huff.
Lots of story I wanna tell you guys. So, be patient okay? :)
Filed under: Uncategorized | 2 Comments
Tags: intermezzo
Dedicated to Ipin.
Kemarin, Rabu 21 Januari 2009. 15:23:49, sebuah sms masuk ke esia gw. Sms dari Panji yang isinya, “Debbya. tman kita Ipin meninggal jam 1 td!!” Bukannya gw lebay. Cuma, saat itu jantung gw serasa berhenti sesaat, shock.
Baru beberapa hari sebelumnya, Panji nge-tag foto di facebook, yang isinya foto kita bertiga. Gw, Panji, dan Ipin. Foto tersebut diambil oleh Alip, ketika awal tahun lalu kita hunting foto bersama di Fatahillah. Di sanalah pertama (dan ternyata yang terakhir) kalinya gw bertemu dengan Ipin. Sebelum-sebelumnya gw hanya mengenal sosok Ipin melalui internet. Pada saat itu, dia ingin menjual kamera, dan gw sedang mencari kamera, hehe. Eh, ternyata dia adik klas nya tmen gw (Panji). Sebagai sesama pecinta dan penikmat fotografi, kita sering sharing macem-macem masalah itu.
Ryandanie Pramadipta nama lengkapnya. Pendiam. Memiliki mata yang teduh, sehingga tanpa perlu dia ucapkan, kita sudah dapat merasakan klo dia care sama kita. Bersuara sangat pelan, kontras dengan penampilannya yang agak berantakan, hehe. Ah, blom apa-apa gw sudah mulai merindukan sosoknya. =(

so long, farewell Ipin!
Dia yang selalu mendoakan gw supaya tugas-tugas gw cepet beres.
Dia yang selalu semangat banget ngajakin gw foto-foto.
Dia yang selalu mengajak untuk bersua, tp gw slalu sibuk sampe ga pernah bisa ketemu sama dia.
Gw inget Pin, terakhir kali kita chatting di MSN. Lo bilang, lo mau main-main ke kampus gw. Pengen ketemu gw, dan berkali-kali lo merencanakan itu, berkali-kali juga gagal rencana kita itu. Sekarang gw sedih, kenapa pas dulu masih ada kesempatan gw ga pernah bisa merealisasikan rencana kita itu sih?

i'm gonna miss to see you capturing something like this.
Semalem gw sempet chatting sama Panji. Kita berdua sedih banget ngebahas kepergian Ipin. Ada satu kalimat yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di dalam pikiran gw, (quote from Panji) “Gw shock banget deb, kenapa harus dia? Dia itu yang paling baik-baik di antara gw dan temen-temen gw.” Seketika gw inget perkataan banyak orang yang sering gw denger. “orang baik itu emang biasanya lebih cepet diambil.” Sekarang gw merenung, atas dasar apa sih seseorang disebut baik atau tidak, dan apakah semua orang baik itu biasanya cepat dipanggil sama Yang Maha Kuasa? Gw merasa teman-teman gw baik semua, dan (Alhamdulillah) sampai sekarang mereka masih ada di sini, saling mengisi satu sama lain. Apakah mereka kurang baik? (Kayanya sih begitu, hehe *pisssss =p) Ntahlah, gw benar-benar ga menemukan jawaban akan fenomena ini. Semua orang pasti menjawab “baik itu relatif, tergantung tiap-tiap orang melihatnya”, dan jujur gw juga akan menjawab jawaban yang sama. Selama ini tampaknya gw menganggap semua orang itu adalah orang baik. Sedangkan orang tidak baik menurut gw adalah, kriminal. Hehe terlalu umum yah?
Tapi kalo dipikir-pikir, sejahat-jahatnya kriminal, biasanya masih ada sisi baiknya kok. Kecuali yah, fenomena si ryan-ryan itu, klo itu mah, dianya sakit, hahaha
So, bagaimana menurut kalian? Atas dasar apa kita menyebut seseorang baik atau tidak?
Oh ya, ga lupa gw mau ngirim doa buat Ipin. Semoga lo bahagia di sana. Kita semua sayang dan bakal kangen banget sama lo. Coba aja liat Page Facebook lo. Semua ngirim doa, sayang, dan kangen. =)
So long, farewell Ryandanie Pramadipta.

panji, me, and ipin @ kota.
Filed under: Uncategorized | 7 Comments
Tags: friendship
forgiveness.
Di awal tahun ini, gw sudah dapat merasakan perubahan-perubahan baru dalam hidup gw. Banyak banget pembelajaran yang udh gw dapatkan di bulan Januari ini. Pembelajaran yang baik tentunya.
Saat ini gw mengambil salah satu topik yang sangat umum, ‘forgiveness’ atau ‘memaafkan’.
Kita semua tau, yang namanya memaafkan itu susah-susah gampang. Seringkali kita memaafkan tetapi hanya di mulut saja, tidak di hati. Malah kadang-kadang, bilang udah memaafkan, tetapi besok-besoknya dibahas lagi masalahnya. Sampai titik apa sih memaafkan diartikan sebagai memaafkan?
Beberapa waktu yang lalu, gw sempet berantem sama salah seorang sahabat terbaik gw, Nadia. Masalahnya cukup besar menurut gw. Tetapi, entah kenapa, gw yakin masalah itu bakal segera selesai, dan kita akan saling memaafkan. Dan memang, pada akhirnya kita saling memaafkan. Sesimpel itu coba, dari yang perang dingin sampai akhirnya kita bisa curhat-curhatan, ketawa-ketawa, sampe gossipan lagi. Seketika semua masalah yang sebelumnya kita permasalahkan hilang. Yes, it’s a forgiveness effects.
Kasus berbeda bila masalah terjadi antara gw dan Deden. Walaupun gw yakin masalah bakal selesai, dan kita akan saling memaafkan, dan memang akhirnya bermaaf-maafan, tetapi butuh waktu sampai maaf itu benar-benar terasa maaf.

love you Nad! hehe
Gw sempat membahas ini sama Nadia. Kenapa pas kita berantem, kita tenang-tenang aja, kita benar-benar yakin kalo kita bakal kembali seperti sebelum ada masalah. Sedangkan, klo berantem sama pacar tuh bawaannya ga tenang?
Akhirnya, kita berdua (gw dan Nadia) setuju kalau masalahnya ada di perasaan takut. Takut akan kehilangan seseorang yang kita sayangi. Menurut kita, sahabat tuh tidak akan meninggalkan sahabatnya, sedangkan pacar? yah, ada jaminan apa dia ga akan meninggalkan kita? hehehe
Dari sini, gw mendapat kesimpulan bahwa, maaf yang kita berikan kepada sahabat itu lebih tulus. (no offense yah buat pacar, hehe) mungkin karena ga ada harapan tertentu dibalik pemberian maaf tersebut. Karena gw yakin, seorang sahabat akan selalu memaafkan dan menerima sahabatnya. Sedangkan maaf ke pacar, bukannya ga tulus, tapi maaf yang kita berikan ke pacar tuh sedikit menyelipkan harapan dibaliknya. Contoh kecil, kita memaafkan pacar kita dengan harapan dia tidak akan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, atau kita mengharapkan maaf dari pacar supaya kita ga ditinggalkan (baca: diputusin) dia. Bener ga? Hehe
Hal ini yang sedang gw usahakan dalam relationship gw. Memaafkan dengan tulus, tanpa harapan apa-apa, tanpa embel-embel sesuatu. Dan sekalinya kata ‘maaf’ keluar dari mulut gw akan satu masalah tertentu, itu berarti gw menghapus masalah tersebut dan membuangnya dari recycle bin hard disk gw. Itu berarti ga ada lagi mengungkit masalah yang udah selesai di hari-hari kedepan. Tidak menghubung-hubungkan masalah dulu dan masalah sekarang.

this post dedicated to Deden and Agus. ;)
Oh ya, dan pendapat bahwa “there’s always a reason behind everythings, be the first to say sorry will be great” itu sangat benar menurut gw. Ga ada salahnya kok minta maaf duluan, walaupun kita gatau salah kita apa. Tapi yakini lah, bahwa kita adalah salah satu faktor di balik masalah tersebut. Salah ga salah, tetep aja kalo ga ada faktor kita nya, seseorang yang ngambek sama kita ga akan ngambek. Hehe. Yaaa, mungkin aja kita berbuat salah tapi ga sadar. Iyaa kann? =)
So, jangan ragu buat meminta maaf dan memberi maaf. Karena memaafkan itu awal dari semua kebahagiaan.
Filed under: Uncategorized | 4 Comments
Tags: friendship, life lesson, relationship
Why man doesn’t understand woman?
sampai saat ini juga gw msh bertanya-tanya kepada diri sendiri dan ke banyak orang.
kenapa sih cowo ga bs ngertiin cewe? banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
faktor utama sih kemungkinan krn cara berpikir cowo dan cewe yang notabene beda banget.
cowo mikir pake logika, cewe mikir pake perasaan.
cowo membeli sesuatu berdasarkan ‘needs’ sedangkan cewe membeli sesuatu berdasarkan ‘wants’.
perbandingan antara needs dan wants ini yang sedang gw usahakan keseimbangannya untuk diri gw.
jelas, saat ini gw lebih condong k arah wants jika menginginkan sesuatu, terutama dalam urusan belanja keperluan sandang. hehe
sampai saat ini gw merasa kalau dasar ‘wants’ itu salah, dan ‘needs’ yang benar. hal tersebut terbukti benar dalam hal manajemen keuangan, dalam artian gw boros.
tapi pernah kah kita berpikir sebaliknya? bagaimana jika ‘wants’ yang benar, dan ‘needs’ yang salah?
bagaimana jika ternyata setelah gw berhasil mengubah pola pikir wants-needs gw itu. ternyata hidup gw jadi berbeda. jadi lebih tidak menyenangkan? bukankah kebahagiaan yang kita cari di dalam hidup?
gw pernah berantem sama deden, cm gara-gara masalah pakaian dalam. menurut gw, budget belanja untuk pakaian dalam gw itu tidak berlebih. karena menurut gw, pakaian dalam itu penting, dan memang harganya segitu. tapi, menurut deden, budget gw itu berlebih banget, bahkan hiperbol. tapi yaa, akhirnya dia bisa menerima alasan (walaupun masih setengah-setengah nerimanya, hehe) kenapa budgetnya harus segitu, setelah salah satu sahabat dan adik gw akhirnya membantu gw, hehe (thanks to you guys!). mereka bilang, “yang bener aja, masa kita hrs make beha yang 20ribuan? itu mah dipake sbentar udah brudul-brudul, ga nyaman pula.” haha, no offense yah buat yang make beha 20ribuan, tp coba deh dipikirin. pasti jelas beda kan nyamannya antara beha yang harganya 20rb sama 200rb? gw yakin dari segi kualitas pun beda. pasti yang lebih mahal lebih awet. hehe

m&s.
vs.

mayestik.
klo menurut bokap gw lain lagi. sebagai investor seluruh perbelanjaan gw. hehe (thanks a lot pap!) pada awalnya dia shock banget pas diajak belanja pakaian dalam bareng. katanya, ‘HAH? mahal banget! beha doang masa segitu harganya? lagipula ngapain sih beli yang bagus-bagus? orang ga keliatan juga kalo dipake.” hahaha, yah bener juga sih, beli yang bagus banget, sampe ada diamond aslinya buat apa? toh ga ada yang ngeliat juga, klo dipake ketutupan baju. tapi tetep, buat gw, kenyamanan adalah faktor utama kenapa gw memilih merk pakaian dalam tertentu. dan setelah beberapa kali menemani gw, ade gw, dan nyokap berbelanja pakaian dalam, bokap akhirnya mulai mengerti tuh, kenapa kita memilih brand tersebut. malah sekarang jadi suka ikut-ikutan ngasih saran. hahaha
nah, dalam kasus ini menurut gw agak rancu antara needs sm wants nya. yah, memang gw ada faktor wants kenapa gw memilih produk tertentu. tetapi tetep ada faktor needsnya kan? gw needs produk tersebut karena faktor kenyamanan, keawetan, dan kesehatan. bagaimana menurut kalian tentang pendapat gw tersebut?
okay, sampai sini, gw menyimpulkan bahwa sebenarnya ga selamanya man doesn’t understand woman. di masalah-masalah tertentu mereka bs menerima pola pikir kita kok, dengan alasan-alasan yang dapat meyakinkan tentunya. seperti apa yang selalu gw bilang, (dalam hal ini gw menyampaikannya ke deden) suatu pola pikir tertentu itu terbentuk berdasarkan kepercayaan akan suatu hal tertentu, kepercayaan di dapat dengan alasan-alasan di baliknya. dan bagaimana kepercayaan tersebut bisa berubah jika ga ada alasan untuk merubahnya? jadi, para pria tidak akan merubah pendapatnya sesuai pendapat kita, jika dari kita sendiri tidak mempunya argumen yang tepat untuk merubahnya. dan dari apa yang gw alami, lebih baik jika akhirnya kita menyatukan kedua kepercayaan, melengkapi satu sama lain, menambahkan dan mengurangi, hingga akhirnya menjadikan argumen dan kepercayaan kita sempurna. jika kalian sudah mencapai titik tersebut, gw yakin. man and woman does understand each other!
Filed under: Uncategorized | 3 Comments
January 17th, 2009
one of the ‘most important’ days in my relatioship with deden.
it’s trust. not lust.
i love you, always.

i love you, always.
Filed under: Uncategorized | 3 Comments
Tags: love life, pradyansa, relationship
From First to Last.
Hello everyone! This is my first post for my new blog ( i hope i can consistent with this one, haha).
Why ‘From First to Last‘? Here’s the story why i choose that Title above.
So, I just got home from Embassy. (Yeah, I know. it’s already 4am, and sorry if i come home very late. :p) I went there to attending my friend, Chirana 22nd Birthday-HAPPY BIRTHDAY once again-haha. And, eventually, Embassy holding they’re last event at the same day. Yes! THE LAST DANCE! The final closing of Embassy Jakarta. (Goodbye Embassy!).
One word come from my mouth when I’ve arrived at Taman Ria Senayan. CROWDED! That’s the first time (and the last) I saw (many) people, (too many!) queue at the entrance of the club.
Yeah, I know, It’s the last event from Embassy. But, come on. Are this supposed to be really important? I saw so many people dying to get in. Believed me, if I haven’t told Chira that I already come. I’ll prefer to back to the car asap, and go home. Haha.

The Last Dance Flyers.

The Club Entrance. Can imagine how crowded it'll be?

bye-bye embassy!
From home, my plan was I coming there to countdown Chira’s Birthday, then go home. But the plan didn’t exactly worked. I’ve finally getting in at 12.30am (absolutely after countdown). After a little chit-chat with Chira, Me and Deden (oh ya, btw. I’m going there with Deden :) ) going nearby dance floor to meet our bebeb ‘Ryann’ who’s coming down from Bandung to Jakarta just to attending that event (gosh!). Ah, the clock ticked very fast, suddenly it’s almost 1.30am, Oh, I guess it’s time to go home, cause me and Deden can’t be there any longer. So, I’m saying sorry to Sasha, Rae, Tino and other friends. Can’t hang with you guys today, maybe later. :)
And now, I’ve already at home, looking to my iMac, writing this post. But, my eye’s already closing. I’m feeling sleepy and tired. I guess, this is it. the ending of my first post.
Okay, so, already got my point why’d i choose that Title? This is my first post, but the story is about The Last Dance. Ironic huh?
I’m off to sleep. Bye-bye!
*wait for my next post. It’ll be more interesting, more funnier, more more more and more everything! haha
Filed under: Uncategorized | 1 Comment
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Filed under: Uncategorized | 1 Comment